February 4, 2017

MISTERI MAKAM BUNG KARNO


Revolusi menelan putera-puteranya sendiri yang terbaik. Bung Karno pun tidak terkecuali. Dia tertelan oleh revolusi itu sendiri. Dia sejak usia muda telah berjuang dengan politiknya melawan pemerintahan kolonial Belanda. Dia pertama kali mengumandangkan mencapai Indonesia merdeka sehingga harus ditebusnya dengan sekapan di dalam tahanan kolonial. Dia yang memproklamirkan kemerdekaan bangsanya.
Dia yang di masa jayanya diagung-agungkan di elu-elukan tetapi dia pulalah yang dimasa menjelang akhir hayatnya dicaci maki dan diperhinakan. Bahkan statusnya sebagai tahanan dari bangsanya sendiri yang diperjuangkan dengan keluar masuk penjara yang kemerdekaanya diploklamirkanya. Tragis, dan agaknya memang demikianlah hukum revolusi yang akan menelan putera-putera revolusi itu sendiri.


Bung Karno pejuang besar. Itu benar, Bung Karno pemimpin bangsanya, itu tak dapat disangkal. Tetapi Bung Karno juga hanya manusia biasa yang mempunyai ciri-ciri manusiawi, itu juga betul. Sebagai manusia biasa tidak luput dari kekurangan, kealpaan dan kesalahan, sebab manusia itu tidak ada yang sempurna. Ada yang suka dan ada pula yang tidak suka. Ada yang setuju dengan kebijaksanaannya, tetapi sebaliknya juga ada yang tidak setuju.

Berita tanggal 21 Juni 1970 yang mengabarkan bahwa Bung Karno telah meninggalkan bangsanya untuk selama-lamanya bagaimanapun juga membuat yang suka maupun yang tidak suka merenung sejenak. Tuhan telah memanggil umatNya dengan caraNya tersendiri. Cara dan jalan Tuhan tentulah yang terbaik dari pada tentulah yang terbaik dari pada cara dan jalan yang dikehendaki manusia. Sebab pandangan (tinjauan) Tuhan jauh melampaui batas dimensi waktu. Berita mengenai sakit Bung Karno yang makin keras menimbulkan kecemasan rakyat baik di Ibukota maupun di daerah-daerah. Lebih-lebih berita wafatnya.

Setalah sejak tanggal 16 Juni 1970 Bung Karno dirawat di rumah sakit RSPAD Jakarta dibawah pengawasan suatu tim dokter yang ditugaskan oleh pemerintah, maka pada Minggu pagi tanggal 21 Juni 1970 jam 07.00 WIB, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia H. Dr. Ir Soekarno telah wafat. Dalam hubungan dengan wafatnya Bung Karno, presiden Suharto telah pula datang menjenguk jenazah almarhum Ir. Soekarno di RSPAD jam 07.30 WIB. Kemudian setelah mendapat kepastian medis dari tim dokter yang ditugaskan pemerintah, segera mengadakan pertemuan dengan para pimpinan Parpol/Ormas/DPA serta keluarga untuk membicarakan soal-soal yang berhubungan dengan wafat beliau.


Menpen Budiarjo dalam keterangannya menyatakan bahwa atas nasehat-nasehat para alim ulama, maka jenazah bekas Presiden Soekarno akan dimandikan di RSPAD untuk kemudian disemayamkan di Wisma Yasa. Jenazah almarhum diberangkatkan dari RSPAD ke Wisma Yasa hari Minggu setelah Dhuhur dan selama itu kepada masyarakat yang ingin melakukan sembahyang jenazah diberikan kesempatan yang seluas-luasnya. Para alim ulama’ dan juga Bung Hatta telah menyatakan keinginannya untuk mengadakan sembahyang jenazah.

MENGAMBIL JIMAT
Dalam bahasa Jawa ada pepatah yang berbunyi, “Seje Kulit Seje Anggit.” yang artinya kurang lebih “lain orang lain pula pendapatnya. Demikian juga yang datang ziarah ke Blitar. Ada yang datang dengan tujuan benar-benar melayat, menghormati bekas Presidennya, menghormati orang yang dianggap bapaknya, ada juga yang mempunyai kepentingan-kepentingan lain. Diantara pengunjung itu tidak kurang-kuran yang ingin membawa kenang-kenangan dari makam tersebut. Kenang-kenangan itu ada yang akan dipakai sebagi kenang-kenangan saja, tetapi ada juga yang ekstrim akan dipakai sebagai jimat (pusaka).

Mereka itu mengambil apa saja yang ada di makam itu. Ada yang mengambil tanah, bunga, secuwil bambu atau kayu. Pokoknya apapun yang dapat diambil. Akan dibawa pulang, sebagai kenang-kenangan dan juga sebagai jimat. Karena tanah makam itu sering diambil meskipun hanya sedikit, lama-lama berkurang banyak juga. Disambung datangnya peziarah-peziarah setiap hari yang ribuan banyaknya. Mereka juga mengambil apa saja yang dapat diambil dengan tujuan di atas. 

Akibatnya tanah makam itu semakin berkurang. Semakin hari peziarah bukan semakin berkurang tetapi semakin banyak. Selain peziarah-peziarah murni juga ada sementara orang yang datang untuk mencari berkah. Untuk mengatur segalanya itu diperlukan peraturan yang sebaik-baiknya. Diperlukan surat ijin dari yang berwajib. Hal ini kabarnya untuk menjaga ketertiban dan tindakan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Kemudian terbesit kabar angin larangan berziarah ke makam Bung Karno di Blitar kecuali keluarga. Peziarah semakin banyak, lebih-lebih setelah makam tersebut dipugar. Orang dapat mengunjungi makam tanpa izin yang berwajib, cukup dengan mencatatkan namnya saja.

BAU WANGI DIMALAM HARI
Kisah yang aneh-aneh seringkali terjadi di makam ini, sebagai misteri tersendiri. Seperti apa yang dikisahkan oleh seorang anggota Hansip yang berdinas jaga di waktu malam hari setelah pemakaman Bung Karno. Setelah pemakaman usai, para peziarah kembali ketempatnya masing-masing. Di makam Bung Karno diadakan penjagaan Hansip setempat. Malam itu tercium bau yang wangi sekali. “Bahkan yang lain-lain juga menciumnya, wangi sekali,” demikian kata Hansip tersebut. Arah datangnya bau wangi itu dari makam Bung Karno.


Namun demikian hal itu tidak menimbulkan bulu kuduk berdiri. Apakah bau wangi itu dikarenakan bunga yang bertumpuk dimakam tersebut? atau karena bau minyak wangi para pengunjung? Dalam kisah-kisah kuno memang ada makam atau mayat yang berbau wangi itu. Dalam babad Banyuwangi disebutkan bahwa Patih Sidapaksa akan membunuh isterinya yang dituduh bermain serong. Sang isteri berkata apabila nanti darahnya berbau bacin itu tandanya dia betul-betul berbuat serong. Ternyata setelah dibunuh di sekitar tempat pembunuhan itu berbau wangi. Daerah itu kemudian disebut Banyuwangi. Demikian kisah sebuah dongeng. Kisah bau wangi dari kuburan Bung Karno itu juga diceritakan oleh orang-orang yang bermukim di dekat makam.

BAROKAH MIMPI
Ada orang yang menganggap mimpi itu hanya sebagai hiasan tidur. Tetapi tidak kurang pula yang berpendapat bahwa mimpi itu mempunyai firasat. bahkan dalam kitab Primbon ada cara menghitung mimpi, apakah mimpi itu termasuk golongan firasat atau bukan. Apabila dihitung jatuh pada (Sasmitoningroh) atau (Dorodasih) itu pertanda bahwa mimpi itu mempunyai arti. Tetapi apabila jatuh pada (Cakrabawa) maka mimpi itu tak ada maksudnya sama sekali. Demikianlah penjelasan menurut kitab Primbon.


Sementara banyak orang yang bermimpi ketemu dengan almarhum Bung Karno. Itu jatuh hitungan yang mana tidak ada yang mengetahui. Hanya sebagaian dari mereka mengatakan bahwa setelah bermimpi bertemu dengan Bung Karno, kemudian ada kemajuan dalam hidupnya. Ada yang usahanya semakin maju. Ada yang mengatakan penyakitnya menjadi sembuh, ada pula yang mendapatkan lotre, dan lain sebagainya. Betul dan tidaknya mimpi itu hanya yang bersangkutan sendiri yang tahu. Apabila orang-orang sekitar makam juga merasa mendapat berkah dari almarhum itu bukan hanya karena mimpi saja. Yang jelas semakin banyaknya pengunjung ke kompleks tersebut, semakin laris juga dagangannya. Dan ini suatu berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar itu. Berkah dari Bung Karno.

Pada waktu ini yang disebut pedangan di sekitar makam itu bukan hanya penduduka asli daerah tersebut. Banyak yang datang dari lain kota. Seperti dari Solo, Kudus, Semarang, Surabaya dan lain-lainya. Mereka berdagang bermacam-macam benda. Ada yang berbentuk souvenir, dan buku. Juga warung-warung nasi yang dizaman pemakaman dulu (bahkan waktu permulaan pemugaran) sulit didapat tetapi sekarang cukup banyak.

MISTERI KELAPA GADING
Menurut ada, selamatan orang mati itu dilakukan berkali-kali. Pertama kali waktu meninggalnya disebut Nyurtanah, lalu tujuh hari, 40 hari dan dilanjutkan lagi dengan selamatan 100 hari, baru kemudian mendak 1 yang berarti genap satu tahun hitungan tanggal Jawa. Disambung dengan mendak 2 yang berarti genap 2 tahun menurut perhitungan penanggalan Jawa. Yang terahir adalah selamatan 1000 hari atau “Nyewu”. Ini terhitung seribu hari setelah meninggal. Habislah sudah selamatan atau peringatan orang yang meninggal. Kalau toh ada itu hanya peringatan Khaul.

Yang hendak diceritakan di bawah ini tatkala menjelang peringatan 40 hari wafat Bung Karno, ada kejadian yang cukup menarik. Menurut Sunandar Marowiryo yang orangnya cukup terkenal di daerah itu, meskipun umurnya sudah diatas 70an tetapi wajahnya mencerminkan usia dibawahnya. Pak Nandar termasuk teman Bung Karno diwaktu kecil. Pak Nandar menceritakan bahwa menurut beberapa orang saksi mata di kota Blitar ini tatkala peringatan 40 hari selamatan meninggalnya Bung Karno diwaktu malam hari tampak cahaya yang terang benderang kelauar dari kompleks makam tersebut. Cahaya apa itu tak dapat diterangkan. Bagaikan cahaya bintang yang menyilaukan mata. Dikisahkan selanjutnya bahwa di kompleks makam itu tumbuh pohon kelapa biasa dengan buah yang hijau warnanya. Tetapi aneh bin ajaib bahwa pada hari ke 40 itu buah kelapa yang tadinya berwarna hijau itu telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Menjadi kelapa Gading.
Dipetik dari buku “Misteri Mistik Bung Karno” ditulis tahun 1981.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.