29 Juli 2018

SANTET PASIR RANDU ALAS


Seberkas sinar tiba – tiba telah berada dalam kamarnya. Menggelantung, menutup langit – langit kamar. Esok harinya, setelah waktu memasuki maghrib, tiba – tiba wanita itu menggelepar menahan sakit. Penderitaan ternyata berkelanjutan hingga lama. Akhirnya ......

Siang di tahun 2000. Suasana rumah di Desa Kalitidu- Bojonegoro- Jawa Timur , itu terasa sangat damai. Angin yang berhembus pelan, menciptakan kesejukan udara didalam dan disekitar rumah. Suminah (60), pemilik rumah. Sumina tengah duduk – duduk santai di beranda. Terpaan angin sepoi, membuat matanya mengantuk. Semakin lama, ia terlihat kian mampu menahan kantuk. Hingga akhirnya, mata wanita itu terpejam. Ia tertidur di kursi teras rumahnya.

Agaknya, Suminah tidur dengan nyenyak. Terbukti, ia mampu tidur selama dua jam, meski dalam posisi duduk. Sekitar pukul lima sore, ia baru terjaga setelah dibangunkan suaminya, Sudarso(65). Namun beberapa menit kemudian, ia baru beranjak dari kursi lalu masuk rumah. Hari itu, Suminah masih ingat betul. Kalender di ruang tamunya menunjukkan Jumat Legi. Satu hari yang amat di sakralkan oleh orang jawa. Termasuk Suminah.

Malam hari, Suminah merasa hawa di dalam rumah tidak seperti biasanya. Hingga mengakibatkan , ia tak bisa tidur. Malam semakin larut, suami dan anaknya  sudah tertidur pulas di kamar masing – masing. Sementara Suminah, masih duduk- duduk seorang diri di ruang tamu. “Mungkin itu adalah salah satu firasat bagi saya, Mas(WM-red),”duganya.

Jenuh sendirian di ruang tamu, Suminah lalu beranjak masuk kamar. Waktu masuk dini hari , sekitar pukul 01.15 WIB. Meski sebenarnya belum mengantuk, Suminah memtuskan berbaring di ranjang. Di samping suaminya yang telah lebih dulu lelap. Pikirannya melayang kosong. Ada keresahan dalam benaknya. Tapi ia tak bisa memastikan bentuk dan sebabnya.

Waktu terus berjalan, Suminah masih belum bisa memejamkan mata. Tiba – tiba seberkas sinar kuning, mengejutkan. Sinar yang muncul tanpa diketahui dari masa asalnya itu, menutup langit – langit kamar. Suminah hanya dapat memandangnya, tanpa bisa berbuat apa – apa. Benaknya lebih dulu dikuasai rasa terkejut, heran, dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi?.

Keberadaan sinar itu tak bertahan lama. Pelan – pelan mengabur dari Pandangan Suminah, hingga akhirnya lenyap tak berbekas. Tak diketahui Suminah, kemana lenyapnya?Sinar itu benar – benar misterius. Muncul secar misterius, hilang dengan misterius juga. Semakin membuat Suminah tak  isa tidur. Ia baru bisa memejamkan mata, ketika waktu sudah menjelang subuh.

Pagi harinya, aktifitas kehidupan Suminah dan keluarganya berjalan seperti biasa. Tidak ada perubahan dalam diri Suminah, setelah kejadian aneh malam itu. Bahkan siyang hingga sore hari, ia masih sempat bercanda dengan anak – anak dan suaminya. Ia juga masih bisa bersantai sambil minum kopi diruang tamu, seusai mandi sore.

Sesuatu yang bersifat gaib, memang tak bisa ditebak kapan datang dan perginya. Begitu pula apa yang terjadi pada diri Suminah. Pagi sampai sore masih menjalani kehidupan dengan normal. Ternyata berubah drastis dalam waktu sekejab. Tak lama setelah menunaikan sholat magrib , ia tiba – tiba mengalami kejadian sangat aneh dan berlanjut menderita cukup lama.

Usai shalat, Suminah mendadak merasa ada perubahan dalam tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang dirasakannya berjalan di aliran darah. Awalnya , terasa dibagian lambung , lalu menjalar ke tangan, kaki, hingga tenggorokan.  Keanehan tersebut, menciptakan rasa sakit yang luar biasa pada diri Suminah. Tak kuat menahannya, Suminah lalu berteriak memanggil suaminya.

Mendengar sang istri teriak – teriak memanggil, Sudarso tergopoh – gopoh masuk kamar, tempat istrinya shalat. Begitu masuk, ia menyaksikan Suminah menggeliat – geliat sambil tangannya memegangi bagian – bagian tubuh yang di rasa sakit. Sudarso turut heran, begitu Suminah menjelaskan rasa sakit yang di alaminya. Seingatnya, sebelum itu Suminah tak mengidap penyakit apapun.

Awalnya Sudarso tak curiga, bila penyakit istrinya disebabkan sesuatu yang bersifat gaib. Kecurigaan baru muncul, saat tangannya tergerak memegang bagian tubuh istrinya yang di rasa sakit. Seketika, ia yang  sedikit mempunyai daya linuwih, merasakan sesuatu getaran yang janggal. Kecurigaanya mengarah pada kejahatan santet. Tapi untuk memastikan, ia lalu mencoba mengorek keterangan dari istrinya, apa pernah membuat orang lain tersinggung?

Ditanya demikian. Suminah yang memang dasarnya orang baik. Mengaku tak pernah berbuat sebagaimana yang ditanyakan Sudarso.namun dari dugaan suaminya, ia lalu teringat dan menceritakan perihal sinar misterius yang sempat ia lihat di kamar, semalam sebelumnya. Mendengar penuturan demikian, meski sebelumnya Suminah sudah mengaku tak pernah menyinggung perasaan orang lain. Sudarso berkeyakinan, bila penyakit Suminah diakibatkan santet.

Keyakinan Sudarso, ternyata tak selaras dengan keyakinan Suminah. Wanita itu tak percaya, bila telah ada orang yang menyantetnya. Ia menganggap , penyakitnya adalah penyakit biasa. Alasannya tetap, yakni merasa tak memiliki musuh. Ia juga tak mau , saat akan dibawa ke paranormal. Dan malam itu, Suminah hanya minta di pijitin.

Pasir Punden Randu Alas
Tanda – tanda bahwa sakit Suminah akibat serangan santet, sebenarnya di hari pertama sudah semakin nyata. Itu terlihat dari serangan rasa sakit yang datang hanya setelah magrib, lalu hilang begitu begitu azan subuh berkumandang. Tapi agaknya Suminah tetap pada keyakinannya. Menganggap itu penyakit biasa. Maka ia pun lebih percaya pada dokter untuk mengobati penyakitnya.

Waktu terus berjalan. Pengobatan dokter, belum juga membuahkan hasil. Rasa sakit tetap rutin mendera Suminah, begitu magrib datang. Bahkan hari demi hari, tingkat rasa sakitnya semakin menyiksa. Selama itu, sudah banyak biaya yang dihabiskan untuk pengobatan ke puluhan dokter. Termasuk dokter spesialis penyakit dalam. Baik yang ada di Bojonegoro, maupun kota – kota lain di sekitar Bojonegoro. Semuanya menyatakan Suminah dalam kondisi sehat dan baik. Tidak ditemukan tanda – tanda adanya satupun jenis penyakit.

Upaya Suminah untuk berobat ke dokter , tak putus arang. Hingga satu kesempatan, ia memutuskan berobat ke rumah sakit Dr. Soetomo Surabaya. Di sanalah, ia baru mendapatkan hasil diagnosa yang berbeda dari sebelumnya. Ia dinyatakan terserang penyempitan urat nadi leher. Karenanya, dokter lau menyarankan untuk melakukan chek up dua minggu sekali. 

Chek up rutin, sudah dijalani Suminah sekitar satu tahun. Namun tetap belum ada hasilnya. Bahkan kondisi kesehatannya bertambah jelek. Tubuhnya juga semakin melemah. Yang lebih mengerikan, rasa sakit kian luas menyerang ke sekujur tubuh. Bahkan telah menyerang matanya, hingga tak bisa melihat apapun.

Genap dua tahun Suminah menderita penyakit yang sangat aneh. Lantaran pengobatan dokter tak kunjung membuahkan hasil, ia lalu pasrah pada nasib.”Saat itu, hidup dan mati, saya serahkan ke Tuhan, Mas(WM-red), “ujarnya mengenang. Ia pun kian mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di tengah kepasrahan berusaha ke dokter. Suminah menemukan jalan pengobatan lain, yang akhirnya mengantarka pada kesembuhan total. Ceritanya waktu itu, ia sedang bermain di rumah salah satu keluarganya yang tinggal didaerah Gubeng Surabaya. Oleh mereka, ia disarankan untuk menciba pengobatan alternatif ke Andik Satria(36), seorang spiritualis berdarah Kalimantan yang tinggal di kawasan pesapen, Surabaya. Sudah putus asa menempuh jalan medis, Suminah menuruti anjuran keluarga tersebut.

Berdasar deteksi gaibnya. Spiritualis muda tersebut menyatakan, Suminah terkena guna – guna yang dikirim Skd, seseorang yang tinggal tak jauh dari rumahnya di Bojonegoro. Motif Skd menyantet, yakni iri terhadap kesuksesan keluarganya. Kesuksesan yang dimkasud, yakni keberhasilan Suminah dalam ekonomi, hingga berhasil menyekolahkan anak – anaknya keperguruan tinggi. Padahal sebelumnya, Suminah berasal dari keluarga  petani miskin.

Target yang ingin di capainya, yakni membuat Suminah mati. Atau paling tidak, menjadi kembang bayang (bunga tidur). Hasil deteksi lebih lanjut baru diketahui, bila dalam tubuh Suminah bersarang segenggam pasir lembut. Menurut Andik Satria, pasir itu berasal dari sebuah punden di daerah Randu Alas, Bojonegoro.

Pelan – pelan namun pasti. Pengobatan yang dilakukan Andik Satria, menuai hasil. Lewat kekuatan gaibnya, ia berhasil mengeluarkan dan memusnahkan pasir kiriman tersebut. Sementara untuk memulihkan urat nadi yang terlanjur tak normal, ia memberikan obat ramuan kepada Suminah. Hasilnya, satu persatu organ tubuhnya yang semula tak berfungsi lagi, kembali normal. Tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan. Begitu pula matanya, sudah dapat untuk melihat. Dan akhirnya, ia sembuh total dari penyakit buatan yang menderanya hingga dua tahun.

Ditanya perasaannya terhadap Skd yang telah berbuat jahat paanya, Suminah mengaku tak akan dendam apalagi membalas. Katanya, ia sudah berjanji kepada dirinya serta kepada Tuhan, tidak akan membalas perbuatan laki – laki tersebut. Ia lebih memasrahkannya kepada Tuhan. “Biarlah Tuhan yang membalas perbuatannya,”tutrnya.

Dari keterangan Suminah, Skd sebenarnya bertujuan merebut tanah miliknya seluas 1 hektar. “Ia juga ingin menghancurkan keluarga saya,”ujarnya. Hal itu menurut Suminah, terbukti dengan bukan hanya dirinya yang jadi sasaran santet Skd. Tapi putra terkecilnya, Jati(26), serta putri nomor duanya , Handayani(30), juga disantet dalam bentuk lain.

Yakni sama – sama mengalami mati nafkah dan mati jodoh. Namun demikian, Suminah tetap tabah dan sabar. Di samping ia terus berusaha mencari jalan keluar.
Wahana Mistis No.50/III

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.