19 Mei 2018

GENDERUWO DAN WEWE GOMBEL BAIK HATI PENUNGGU JEMBATAN

     Jika malam tiba, tak seorang warga yang berani melewati jembatan ini.  Sebab mereka yakin, jembatan tersebut dihuni dua jenis lelembut yang selalu muncul bergantian.  Sampai sekarang tak terhitung warga yang pernah di usili kedua penunggu tersebut.  Tapi aneh, kadang genderuwo yang sering menjelma menjadi seorang laki – laki itu dapat membantu pekerjaan dan keperluan seorang warga yang diingini.

Tak seorang pun yang tahu pasti mengapa desa ini dinamakan Caben.  Kebanyakan warga asli desa ini hanya dapat mengira, mungkin dulu daerah yangb jadi tempat tinggalnya sekarang ini merupakan penghasil cabe terbesar di Pulau Jawa.  Desa yang terletak jauh dari kota kabupaten ini sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan berladang.

Kondisi alam yang cukup sulit tersebut, ternyata mampu menciptakan sumber daya manusia yang tangguh, tidak mengenang putus asa.  Biar tanah garapan hanya dapat ditanami saat musim hujan, tidak berarti mereka harus menganggur.  Justru keadaan demikian membangkitkan semangat dan kreatifitas untuk mengolah tanah agar tetap dapat menghasilkan.  Perjuangan yang sangat berat, namun cukup memuaskan warga setempat.

Sebelum memasuki kampung Caben, yang masuk dalam wilayah Kelurahan Njeruk Kecamatan Cepu jawa Tengah, pertama kali jalan yang di lalui harus melewati jembatan yang bmerupakan batas antara dua desa yakni Desa Banyu Urip dan Desa Pilang. Selanjutnya jalan yang dilalui untuk sampai ke kampung Caben harus melewati areal persawahan dan tegalan milik penduduk.

Wewe Gombel
Siyang itu, terik mentari benar – benar terasa menyengat, sepanjang jalan tampak tanah tegalan pecah – pecah dan hampir semua pohon kering kerontang.  Memasuki jembatan Desa Caben, hawa aneh mulai terasa.  Tak heran, cerita keangkeran jembatan tersebut sampai sekarang masih saja hangat untuk dibicarakan.

Seperti pengalaman Lilik (28), tukang ojek yang sempat ditemui mengaku pernah bertemu dengan sosok wanita dengan pakaian kebaya dan berselendang sedang duduk di pagar jembatan.  Ceritanya, tiga minggu lalu ia mengantar seorang penumpang menuju ke kota kecamatan untuk belanja perlengkapan tokonya. Setelah menerima ongkos, ia bergegas kembali ke pangkalan untuk antri dan menunggu giliran selanjutnya.

Tiga puluh meter sebelum jembatan tersebut, tiba – tiba ia melihatseorang wanita sedang duduk di pagar jembatan.  Sosok wanita memakai kain jarit yang di padu dengan baju terusan, dan berselendang yang melintang di atas pundaknya tersebut terus menatapnya tajam.  Tepat di depannya, ia sempat menyapa dengan cara melempar senyum.  Namun wanita itu tetap menunjukkan sikap angkuh dan sedikit galak, tak seperti wanita desa tersebut pada umumnya.

Sebenarnya saya sama sekali tidak memperhatikan sikapnya yang aneh itu Mas. Tapi ketika sampai di bawah pohon asem yang tumbuh tepat di pinggir jalan dengan jarak sekitar 25 meter setelah melewati jembatan, tiba – tiba motor yang saya kendarai mogok.  Aneh, saat saya tengok kembali jembatan itu, ternyata wanita misterius yang saya lihat, hilang entah kemana.  Warga disini sering menyebut sosok wanita misterius itu dengan sebutan wewegombel Mas, papar lelaki yang sudah sepuluh tahun berprofesi sebagai tukang ojek ini.

Genderuwo 
Pengalaman yang sama juga dirasakan Marjuki (60), warga Caben lainnya yang sempat dikerjai lelembut di bawah pohon asem tak jauh dari jembatan tiga bulan lalu, tepatnya pada bulan Mei 2002, sekitar pukul 9 malam saat pulang sendiri dengan berjalan kaki. Kebetulan jarak rumahnya dengan tempat melekan berjarak kurang lebih hanya 200 meter.  Belum begitu jauh meninggalkan tempat melekan, tiba – tiba ia merasakan udara lain yang menerpa tubuhnya yang membuat bulu kudunya berdiri.

Waktu itu tidak seperti biasanya, meski dalam keadaan gelap gulita saya sama sekali tidak pernah merasakan hawa aneh. Namun semakin mendekati pohon asem yang tumbuh cukup besar di pinggir jalan, tiba – tiba terdengar suara berisik.  Saya saat itu hanya menganggap suara kucing atau garangan yang sedang kejar – kejaran. Tapi aneh, setelah saya berada persis dibawahnya, mendadak pohon tersebut tumbang.  Padahal malam itu tak ada hujan dan angin yang tertiup kencang, ungkapnya.

Antara takut dan tidak, langsung menghantui pikirannya.  Dengan keberanian yang dipaksakan , ia lanjutkan berjalan sambil menyatakan lampu senter yang dibawanya.  Benar, sekitar 20 meter di depannnya, pohon dengan batang berdiameter sekitar 2 meter itu memang benar – benar tumbang.  Tahu keadaan yang sebenarnya, saya bertambah panik.  Namun saat itu tetap saya paksakan untuk tetap berjalan di sela – sela ranting yang sudah menyentuh tanah, paparnya. Ternyata ulah lelembut pohon asam tersebut tidak berhenti sampai disitu, baru saja melewati ranting pertama kali, seperti ada yang mengangkat tubuh saya dan dilempar sampai beberapa kali. Ya jelas Mas, saya sampai terkencing – kencing dicelana.  Tapi aneh, setelah saya dilempar dan terjatuh , pohon besar itu berdiri sendiri seperti semula, imbuhnya.

Terang saja, Marjuki langsung mengambil langkah seribu untuk segera sampai dirumah.  Kedatangannya dengan mendobrak pintu rumah, membuat seisi rumah yang sedang menonton tv kaget.  Apalagi melihat keadaaanya yang ngos – ngosan  “Saya akhirnya berbohong setelah ditanya bermacam – macam oleh istri dan anak – anak.  Dari pada malu, saya waktu itu mengatakan memang sengaja berlari agar cepat sampai di rumah.  Baru keesokan harinya saya mengaku ketakutan setelah di usili genderuwo penunggu pohon asam pada keluarga dan para tetangga , ujarnya sambil tersenyum malu.

Sutarmin, petani yang juga pekerja bangunan ini membenarkan keberadaan genderuwo, penghuni pohon asam tersebut bukan omong kosong belaka.  Padahal awalnya ia sama seakali tak percaya adanya lelelmbut yang sering menempati rumah kosong, pohon besar, jalan raya, jembatan dan lain – lainnya itu.  Dengan semakin luasanya kabar tersebut, ia mulai penasaran dan ingin membuktikan sendiri sosok genderuwo tersebut.

Jika warga lainnya berdiam diri di rumah sambil nonton televisi, selepas maghrib namun tidak pada dirinya.  Malam itu sengaja keluar rumah, dan bertandang ke rumah temannya yang berada di desa tetangga, untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit.  Tepat pukul tiga dini hari, ia pun pulang.  Dalam perjalanan malam itu, sama sekali ia tak merasa takut meski keadaan jalan yang dilaluinya gelap gulita.  Sambil menenteng lampu senter yang terus menyala, ia berjalan sampai menuju rumahnya.

Namun sesampai di depan rumah Kang Jum’at, tetangga yang mengajak mampir ke rumahnya.  Merasa ngantuk, ia berusaha menolak ajakna itu.  Entah apa sebabnya, ia tak kuasa menolak dan akhirnya ia masuk kedalam rumah.  Setelah ngobrol ngalor – ngidul lebih dari satu jam , ia memberanikan diri untuk pamit segera pulang dan diantar Kang Juma’at sampai di depan pintu pagar.

Aneh, baru beberapa kali melangkah, ia merasakan telah berjalan cukup jauh, tapi tak pernah sampai di rumah.  Membuat kakinya terasa berat dalam melangkah, hal ini memaksanya untuk melepas lelah di pinggir jalan.  Tanpa terasa, sesaat kemudian ia tertidur.  Sekitar subuh, ia ditemukan dan dibangunkan Pak Karto yang akan berangkat ke sawah.

Siyang harinya, seluruh warga desa geger.  Mendengar namanya di jadikan bahan obrolan, Kang Jum’at langsung datang ke rumah, waktu itu ia sama sekali tak pernah mengundangnya untuk mampir.  Ia malam kejadian itu sedang dalam perjalanan ke luar kota.  Saya tambah penasaran dan takut.  Mungkin juga kejadian yang saya alami itu akibat saya mengeluarkan sesumbar sebelumnya, kenang lelaki berpenampilan sederhana itu.
Baik Hati
Sementara Sarimin (45), warga setempat yang bekerja sebagai buruh tani, mengaku pernah dibantu genderuwo tersebut saat melakukan panen.  Ceritanya, saat itu ia memanen padi juragannya sampai menjelang maghrib.  Rurupa dalam memotong tangkai padi yang telah menguning tersebut, ia diperhatikan terus oleh seseorang dari dalam gubuk.  Seperti biasanya, setelah dipanen padi di ikat menjadi beberapa ikatan kemudian dinaikkan ke dalam gerobak untuk dibawa pulang.  Tanpa di minta ternyata orang itu berjalan mendekat dan memberikan bantuannya.

Selesai dan siap untuk pulang, laki – laki itu juga tidak pergi  bahkan ia tetap membantu mendorong gerobak.  Dalam perjalanan menuju rumah majikannya itu, ia banyak bertanya tentang kehidupan Sarimin.  Aneh, memasuki sebuah tikungan gerobak yang ia bawa semakin terasa berat.  Dan ketika ia menoleh ke belakang, ternyata lelaki teman ngobrolnya tersebut lenyap entah kemana.

Tahu kalau yang saya ajak ngobrol adalah lelembut, sekuat tenaga gerobak itu saya dorong sambil berlari.  Saat membongkar muatan untuk dimasukkan ke dalam lumbung, lagi – lagi saya kaget Mas, ternyata orang misterius itu meninggalkan bajunya di antara tumpukan padi di dalam gerobak, kenangnya.

Tidak itu saja, sesampai di rumah pun saya sempat terheran – heran.  Sebab istri saya juga mendapat kiriman daging dari seseorang yang mengaku suruhan dari saya.  Demikian juga dengan anak saya nomor dua, ia juga memiliki sejumlah uang yang akhirnya saya gunakan untuk tambahan modal jualan kecil – kecilan.  Ternyata penunggu jembatan itu tidak jahat seprti yang di ceritakan orang.  Lelembut tersebut juga dapat membantu meringankan beban manusia, lanjut Sarimin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.