21 Desember 2016

FENOMENA GUS DUR I


Nama Asli Gusdur
Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa nama Gus Dur adalah Abdurrahman Wahid.  Kata “Gus” dalam bahasa orang-orang Jombang berarti “Kak” sebagaimana kata “Cak” (misalnya Cak Nur (Prof. Nurcholish Madjid, Ph.D), Cak Imin (Drs. A. Muhaimin Iskandar, M.Si), dan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).  Panggilan “Gus” ini juga digunakan untuk menyebut atau memanggil anak Kiai di Jawa Timur pada umumnya.  Kata “Dur” adalah kependekan dari “Abdurrahman”.  Sementara kata “Wahid” yang ada dibelakang “Abdurrahman” adalah nama ayah Gus Dur, yaitu Abdul Wahid yang dikenal sebagai KH. A. Wahid Hasyim.
Padahal nama Gus Dur sebenarnya adalah Abdurrahman ad-Dakhil.  Nama ini mengingatkan kita kepada Abdurrahman I (Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik).  Raja dari Dinasti Umayah yang berkuasa pada 756 – 788 M ini berhasil menaklukkan Andalusia (sekarang Spanyol) sehingga mendapat gelar “ad-Dakhil” (sang Penakluk).  Tampaknya, Wahid Hasyim ingin agar anaknya kelak menjadi “Seorang Penakluk” sebagaimana Abdurrahman ad-Dakhil.  Ternyata, harapan itu terbukti dengan adanya Gus Dur yang berhasil menjadi tokoh fenomenal.


Baca juga: ILMU KASEPUHAN

Tidak Naik Kelas
Gus Dur melanjutkan pendidikan SMP di Yogyakarta tepatnya di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Gowongan.  Sang ayah menitipkan Gus Dur di rumah Kiai Junaidi, salah satu tokoh Muhammadiyah. Pada sore hari, Gus Dur mengaji di Pesantren Krapyak yang saat itu diasuh oleh KH. Ali Maksum, Kiai yang kelak menjadi partner Gus Dur di NU (menjadi Rais Am).  Ketika di SMEP, Gus Dur akrab dengan salah satu gurunya yang bernama Bu Rupiah, guru yang banyak meminjami buku-buku asing kepada Gus Dur.  Gus Dur juga sekelah dengan artis Rima Melati (beranama asli Marjolien Tambajong atau Lientje Tambajong).  Namun tahukah anda? Gus Dur ternyata menyelesaikan SMEPnya selama 4 tahun.  Presiden RI ke 4 ini ternyata mengulang dua kali di kelas dua.  Hobinya membaca buku yang “keterlaluan” menyebabkan pelajaran sekolahnya terbengkelai.  Jadi, kalau kita selalu naik kelas berarti kita lebih pintar dari Gus Dur.  Gus Dur aja yang nggak naik kelas bisa jadi presiden kok!!…heeee…xixixi…wkwkwk…



Gus Dur menghalalkan ikan curian
Antara tahun 1957 s/d 1959 Gus Dur belajar di Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.  Saat itu pesantren ini diasuh oleh KH. Chudlari.  Meskipun berasal dari pesantren besar (Tebuireng), Gus Dur bisa bergaul akarab dengan santri-santri yang lain.  Pada suatu malam, Gus Dur bersama beberapa santri merencanakan mencuri ikan yang ada di kolom tengah kompleks pesantren.  Gus Dur tidak mau ikut turun ke kolam, dia hanya berdiri di dekat kolah untuk mengawasi jika Kiai lewat. 
Tepat tengah malam, aksi inipun dimulai.  Beberapa ekor ikan telah berhasil ditangkap, alalu dikumpulkan di dekat tempat Gus Dur berdiri.  Kira-kira pukul 01.00 dini hari terdengar suara sandal yang mulai mendekat.  Teman-teman Gus Dur yang tadi nyemplung di kolam segera keluar dan lari tunggang langgang.  Sementara Gus Dur tetap tenang di tempatnya berdiri.  Ternyata, suara itu berasal dari sandal milik Kiai Chudlari yang kebetulan lewat akan shalat malam di masjid.
Melihat Gus Dur berdiri di samping kolam, Kiai Chudlari segera menghampiri Gus Dur.  Kata Kiai Chudlari, “Ada apa Dur?”, “Ini Kiai, tadi ada banyak pencuri yang mau ambil ikan disini, lalu saya datang ke sini, dan mereka pada lari.  Ini ikan-ikan yang mau mereka curi,” Gus Dur menjawab dengan tenang sambil memegang ikan-ikan yang telah dimasukkan dalam plastik.  “Ya udah, ambil saja ikan-ikan itu.  Terima kasih telah menyelamatkan ikan-ikan saya,” kata Kiai Chudlari.  “Ya…Kiai, sama-sama,” jawab Gus Dur dengan hormat.  Ikan-ikan itu oleh Gus Dur dibawa ke gotha’an (kamar), lalu dimasak bersama-sama di dapur.  Teman-teman yang tadi bersama denga Gus Dur langsung marah-marah.  Mereka merasa dikhianati.  Gus Dur pun berusaha membela diri dengan mengatakan, “Alaah… kamu juga mau makan aja.  Ikan ini tadinya haram, tapi karena aku tetap di samping kolam, akhirnya menjadi halal, Kiai yang memberikannya…Heeee….!!

Nonton Dulu Baru Kuliah
Gus Dur dan Gus Mus adalah dua sahabat yang sangat akrab sejak kuliah di Kairo.  Keduanya tinggal di asrama mahasiswa yang sama.  Bahkan, seminggu sebelum meninggal, Gus Dur bersikeras mengunjungi Gus Mus untuk membicarakan teman-temannya yang sudah meninggal.  Konon, keduanya juga selalu bersama-sama saat berangkat kuliah ke Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.  Suatu ketika, Gus Mus naik bus bersama Gus Dur.  Gus Mus saat itu merasa sangat mengantuk karena habis begadang bersama teman-teman.  Gus Mus berpesan kepada Gus Dur, “Nanti kalau udah sampai kampus, bangunkan aku ya…!!”
“Ya,..!!” begitu jawab Gus Dur.  Beberapa menit kemudian bis terhenti di halte.  Gus Mus pun dibangunkan oleh Gus Dur.  Tanpa menoleh kanan-kiri, Gus Mus segera keluar dari bis mengikuti Gus Dur.  Namun, Gus Mus sangat kaget dan berkata, “loh…mana kampusnya?” dengan enteng Gus Dur menjawab, “Udahlah…!! nonton dulu… kuliah gampanng, lagian bisa baca sendiri.  Film ini terakhir lho diputar di Kairo…!”
Gus Mus pun hanya mengikuti saja ajakan Gus Dur, sahabat karibnya yang sangat menyukai film perancis ini.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.