22 Desember 2016

MEMBEDAH ILMU GHAIB ISYARAT ALAM SERAT CENTHINI


Sebagai induk ilmu-ilmu Jawa, Serat Centhini kerap dipakai sebagai rujukan kitab-kitab Kejawen berikutnya.

Kitab Centhini merupakan upaya besar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkurat III, untuk mendokumentasikan semua ilmu dan pengetahuan Jawa yang adiluhung.  Ditulis pada Sabtu Pahing 26 Sura 1742 tahun Jawa atau 1814 tahun Masehi.  Yang mendapat tugas diantaranya Radeng Ngabehi Yasadipura II (Radeng Tumenggung Sastranagara),
abdidalem bupati pujangga kadipaten, Raden Ngabehi Sastradipura, Abdidalem Kliwon carik kadipaten, dan Pangeran Jungut Mandurareja, pradikan krajan Wangga, Klaten Surakarta dan juga Kyai Kasan Besari, Ulama’ agung di Gebangtinatar, Panaraga, menantu Sinuhun Paku Buwana IV, Kyai Mohamad Minhad, Ulama’ agung di Surakarta dan diketuai oleh Ki Ngabehi Ranggasutrasna, abdidalem kliwon carik kadipaten.


Acuan penulisannya adalah serat “Suluk Jatiswara” yang ditulis pada masa pemerintahan Paku Buwono III pada 1711 Jawa.  Nama serat ini aslinya “Suluk Tambangraras,” belakangan serta justru kondang disebut Serat Centhini yang diambil dari nama seseorang yang mengabdi kepada Niken Tambangraras istri Syech Amongraga.  
Serat Centhini berisi berbagai macam pengetahuan antara lain:
-Kawruh agama
-Sastra
-Seks
-Situs
-Pawukon
-Primbon
-Keris
-Obat-obatan
dan lain-lain
Begitu lengkapnya hingga oleh sebagian ahli, kitab ini disebut sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa.  Salah satu pengetahuan Jawa itu bisa dilihat ada Pupuh 22 dengan tembang Mijil.  Pupuh ini mengisahkan perjalanan Raden Jayengresmi bersama kedua abdinya, Gathak dan Gathuk sampai di Tuban, di Hutan Bagor.


Dalam perjalanan ketiga orang ini tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara meriam menggelegar bagaikan gempa.  Bersamaan dengan suara tersebut, muncullah seorang putri cantik yang mengaku bernama Kanjeng Ratu Mas Trengganawulan.  Menurut penuturannya, Kanjeng Ratu Mas Trengganawulan adalah putri Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir.  Ketika Majapahit runtuh ia melarikan diri dan sampai di hutan Bagor wilayah Tuban.  Di hutan tersebut Trengganawulan mendapat perintah dari Hyang Widhi untuk merajai para makhuk halus.


Setiap hari Sukra Manis, Trenggana Wulan muncul di sendang Sugihwaras, tempat ia mandi, untuk menemui seseorang yang sedang menjalani laku tirakat.  Kanjeng ratu Mas Trenggana Wulan menuturkan kaweruh alam kepada Raden Jayengresmi, kaweruh tersebut diantaranya:

KAWERUH ALAM (ISYARAT ALAM)
Menelisik pertanda alam melalui suara Burung Dhandhang.  Burung Dhandhang adalah jenis burung berwarna hitam, posturnya bentuknya mirip burung gagak tetapi dengan dimensi yang lebih kecil.


1.      Jika burung Dhandang bersuara dari arah Timur ke Barat rumah, itu artinya pertanda baik.  Akan ada tamu seorang besar yang luhur budinya.
2.      Jika burung Dhandang bersuara dari arah Timur ke Selatan rumah, juga pertanda baik.  Apa yang dikerjakan atau akan dikerjakan pemilik rumah akan mendapatkan keberhasilan yang memuaskan.
3.      Jika mendengar suara burung Dhandhang dari arah Selatan rumah, itu pertanda baik, pemilik rumah akan mendapatkan banyak rezeki.
4.      Namun jika mendengar burung Dhandhang bersuara dari arah Selatan Barat rumah, itu pertanda jelek.  Pemilik rumah akan terlibat pertengkaran demi memperebutkan hal-hal sepele.
5.      Jika mendengar burung Dhandhang bersuara dari arah Barat rumah, itu pertanda baik.  Salah seorang dari anggota pemilik rumah akan segera mendapatkan jodoh bagi yang belum memiliki pasangan hidup.
6.      Namun jika mendengar suara burung Dhandhang dari arah Utara Barat rumah, itu pertanda jelek.  Pemilik rumah akan menderita sakit serta kekecewaan yang mendalam.
7.      Jika burung Dhandhang bersuara, dari arah Utara rumah, itu akan menjadi pertanda jelek, pemilik rumah akan mendapatkan malu dari perselisihan yang dialaminya.
8.      Jika burung Dhandhang bersuara dari arah Utara Timur rumah, itu menjadi pertanda baik, pemilik rumah akan kedatangan saudara jauh.
9.      Dan jika burung Dhandhang bersuara, di atap rumah, itu pertanda jelek, akan ada anggota keluarga yang meninggal.

PERTANDA BURUNG PRENJAK
Masih menurut Serat Centhini, pertanda alam bisa dirasakan melalui suara burung Prenjak.


1.      Jika ada dua burung Prenjak berkicau bersahut-sahutan di arah selatan rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu besar yang memiliki niat bagi pemilik rumah.
2.      Jika burung prenjak berkicau di arah Barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada tamu yang mengajak bertengkar dengan pemilik rumah.
3.      Jika ada burung prenjak berkicau di arah Utara rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu seorang guru memberi wangsit yang baik dan suci.
4.      Jika ada burung prenjak berkicau di arah timur rumah, itu pertanda jelek, akan ada kebakaran.
5.      Jika ada burung Prenjak berkicau mengitari rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rezeki yang halal.
Itulah sebagian ilmu yang termaktub di dalam Serat Centhini, pembaca dapat membuktikannya sendiri kebenarannya.  Bukan niat kami mempercayai ramalan akan tetapi kami melestarikan apa yang ditinggalkan leluhur.  Semua berpulang kepada kepercayaan masing-masing individu.  Semoga bermanfaat.
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.