26 November 2017

PANTANGAN DI TELUK KILAUAN


Kalau mati  dalam pertempuran   ini,   satu permintaan  saya:  Kuburkan  saya di  pulau seberang teluk ini." Begitu kata Raden Mas Arya suatu saat sebelum bertempur dengan warga   Negeri  Kelumbayan   yang   akhirnya   dia   tewas.   Dan,   atas   kiluan   (bahasa Lampung:   permintaan)  itu,   masyarakat   menguburkannya   di   tengah   pulau   yang ditunjuknya. Kejadian  tersebut  menjadi   legenda di   tengah masyarakat  atas nama Pulau Kiluan di Pekon Negeri Kelumbayan, Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus. Meskipun banyak versi cerita dalam legenda nama pulau itu, pada dasarnya begitulah masyarakat asli di sana bercerita. Legenda  masyarakat   tersebut  dikuatkan  dengan   adanya   tumpukan   batu   semacam makam pada puncak ketinggian di tengah pulau. 

Menurut masyarakat setempat, lokasi tersebut terdapat  makam Raden Mas Arya. Selain lokasi  tersebut  dijadikan tempat  yang dikeramatkan, juga banyak kejadian-kejadian mistik di  pulau  itu.  "Ada kebiasaan masyarakat  yang melarang untuk tidak mandi  di  tegi  ghani  atau sekitar pukul  11 siang di pantai  pulau itu," kata Cik Mat, warga setempat  yang berkunjung saat  digelar malam ramah tamah rombongan peserta Kiluan Fishing Week dengan masyarakat setempat di Pulau Kiluan itu awal September 2006. Legenda berawal saat pada era mulai runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Islam masuk Indonesia.  Di  kawasan awalnya menjadi  umbul  atau perladangan masyarakat  Pekon Bawang, dikenal seorang pendatang yang sangat sakti. 

Dia adalah Raden Mas Arya, ada dua versi asal orang tersebut ada yang menyebut berasal dari Malaka juga ada yang menyebut dari kawasan Banten. Karena   kesaktiannya   yang   belum   terkalahkan   pada   saat   itu,   bahkan   karena kesaktiannya dia dapat  mengetahui kapan ajalnya akan tiba.  Dan, suatu hari Raden Mas Arya ditantang tanding salah seorang warga setempat (masyarakat tidak mengetahui siapa identitas penantang  ini).  Menurut  salah satu versi,  sang penantang  ini  adalah seorang guru silat  dari daerah Kotaagung, Tanggamus. Karena  tahu ajal  segera  tiba di   tangan penantangnya  itu,  Raden Mas Arya meminta dimakamkan   di   suatu   pulau.  

Dia   juga  memberi   tahu   kelemahannya   pada   bagian   tertentu tubuhnya   yang   ditusuk   dengan   senjata   bukan   dari   besi.   Sesuai   dengan   permintaannya, dimakamkanlah Raden Mas Arya di pulau yg diberi nama kiluan.  "Mayatni dikubur dija, sangun sina kiluan ni (Mayatnya dikubur di sini, memang itu permintaannya," kata Mat Cik. Menurut   seorang   aktivis   Yayasan  Cinta  Kepada  Alam  (Cikal)   Yeye,  memang   ada legenda seperti  itu.  Namun,  dari  berbagai  cerita yang didapatnya,  ternyata banyak versi  yang menjadikan nama pulau itu salah satunya cerita Raden Mas Arya. Di bukit di tengah pulau itu ada ritual tertentu yang diajarkan masyarakat sana. "Tapi yang harus dijaga adalah kelestarian pulau beserta seluruh habitat  laut di  kawasan itu sebagai  daya tarik wisata pulaunya," katanya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.