1 April 2018

MISTERI PIRAMIDA MESIR


Piramida  raksasa Mesir merupakan salah satu dari   tujuh keajaiban dunia saat   ini,  sejak dulu dipandang sebagai bangunan yang misterius dan megah oleh orang-orang. Namun, meskipun  telah berlalu berapa  tahun  lamanya,  setelah sarjana dan ahli  menggunakan sejumlah besar alat peneliti yang akurat  dan canggih,  masih belum diketahui,  siapakah sebenarnya yang  telah membuat bangunan raksasa yang  tinggi  dan megah  itu? Dan berasal dari kecerdasan manusia manakah prestasi yang tidak dapat dibayangkan di atas bangunan itu? Serta apa  tujuannya membuat bangunan tersebut? Dan pada waktu  itu  ia memiliki  kegunaan yang bagaimana atau apa artinya? Teka-teki yang terus berputar di dalam benak semua orang selama  ribuan  tahun,  dari  awal  hingga akhir merupakan misteri  yang  tidak dapat  dijelaskan. Meskipun sejarawan mengatakan ia didirikan pada tahun 2000 lebih SM, namun pendapat yang demikian malah  tidak bisa menjelaskan kebimbangan yang diinisiasikan oleh sejumlah besar penemuan hasil penelitian.

Sejarah Mitos dan Temuan Arkeologi
Sejak   abad   ke-6   SM,   Mesir   merupakan   tempat   pelarian   kerajaan   Poshi,   yang kehilangan kedudukannya setelah berdiri   lebih dari  2.000  tahun,  menerima kekuasaan yang berasal  dari  luar yaitu kerajaan Yunani,  Roma,  kerajaan  Islam serta kekuasaan bangsa  lain. Semasa itu sejumlah besar karya terkenal zaman Firaun dihancurkan, aksara dan kepercayaan agama bangsa Mesir sendiri secara berangsur-angsur  digantikan oleh budaya  lain,  sehingga kebudayaan  Mesir   kuno  menjadi surut   dan   hancur,   generasi   belakangan   juga   kehilangan sejumlah besar  peninggalan   yang dapat  menguraikan  petunjuk  yang ditinggalkan  oleh para pendahulu.

Tahun 450 SM, setelah seorang sejarawan Yunani berkeliling dan tiba di Mesir, membubuhkan tulisan:  Cheops,   (aksara   Yunani  Khufu),   konon   katanya,   hancur   setelah   50 tahun. Dalam batas tertentu sejarawan Yunani tersebut menggunakan kalimat "konon katanya", maksudnya bahwa kebenarannya perlu dibuktikan  lagi.  Namun,  sejak  itu pendapat  sejarawan Yunani   tersebut malah menjadi   kutipan   generasi   belakangan   sebagai   bukti   penting   bahwa piramida didirikan pada dinasti kerajaan ke-4. Selama ini, para sejarawan menganggap bahwa piramida adalah makam raja. 

Dengan demikian,  begitu membicarakan piramida,  yang terbayang dalam benak secara tanpa disadari adalah perhiasan dan barang-barang yang gemerlap. Dan, pada tahun 820 M, ketika gubernur
jenderal Islam Kairo yaitu Khalifah Al-Ma'mun memimpin pasukan, pertama kali menggali jalan rahasia dan masuk ke piramida, dan ketika dengan tidak sabar masuk ke ruangan, pemandangan yang terlihat malah membuatnya sangat kecewa. Bukan saja tidak ada satu pun benda yang biasanya dikubur bersama mayat, seperti mutiara, maupun ukiran, bahkan sekeping serpihan pecah belah pun tidak ada, yang ada hanya sebuah peti batu kosong yang tidak ada penutupnya. Sedangkan tembok pun hanya bidang yang bersih kosong, juga tak ada sedikit pun ukiran tulisan.

Kesimpulan   para   sejarawan   terhadap   prestasi   pertama   kali  memasuki   piramida   ini adalah "mengalami perampokan benda-benda dalam makam". Namun, hasil penyelidikan nyata menunjukkan,  kemungkinan pencuri  makam masuk ke piramida melalui   jalan  lainnya adalah sangat  kecil  sekali. Di bawah kondisi biasa, pencuri makam juga tidak mungkin dapat mencuri tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, dan lebih tidak mungkin lagi menghapus seluruh prasasti Firaun yang dilukiskan di  atas tembok.  Dibanding dengan makam-makam lain yang umumnya dipenuhi perhiasan-perhiasan dan harta karun  yang berlimpah   ruah,  piramida   raksasa   yang dibangun untuk memperingati keagungan raja Firaun menjadi sangat berbeda. 

Selain itu, dalam catatan "Inventory Stela"  yang disimpan di  dalam museum Kairo, pernah disinggung bahwa piramida  telah ada sejak awal  sebelum Khufu meneruskan  takhta kerajaan. Namun,  oleh karena catatan pada batu prasasti   tersebut  secara keras menantang pandangan tradisional,   terdapat  masalah antara hasil penelitian para ahli  dan cara penulisan pada   buku, selanjutnya   secara   keras   mengecam   nilai penelitiannya.   Sebenarnya dalam keterbatasan catatan sejarah yang bisa diperoleh, jika karena pandangan   tertentu   lalu mengesampingkan   sebagian bukti   sejarah,   tanpa   disadari   telah menghambat kita secara obyektif dalam memandang kedudukan sejarah yang sebenarnya.

Teknik Bangunan yang Luar Biasa
Di Mesir, terdapat begitu banyak piramida berbagai macam ukuran, standarnya bukan saja  jauh lebih kecil,  strukturnya pun kasar.  Di antaranya piramida yang didirikan pada masa kerajaan ke-5 dan 6, banyak yang sudah rusak dan hancur,  menjadi   timbunan puing,  seperti misalnya   piramida  Raja Menkaure seperti pada gambar.  Kemudian, piramida besar yang dibangun pada masa yang lebih awal, dalam sebuah gempa bumi dahsyat pada abad ke-13, di mana sebagian batu ditembok sebelah luar telah hancur, namun karena bagian dalam ditunjang oleh  tembok  penyangga,  sehingga  seluruh strukturnya  tetap sangat kuat.  Karenanya, ketika membangun piramida raksasa,  bukan hanya secara sederhana menyusun 3 juta batu menjadi bentuk kerucut, jika terdapat kekurangan pada rancangan konstruksi yang khusus ini, sebagian saja yang  rusak,  maka bisa mengakibatkan seluruhnya ambruk karena beratnya beban yang ditopang. Lagi pula, bagaimanakah proyek bangunan  piramida raksasa itu dikerjakan, tetap merupakan topik yang membuat pusing para sarjana. 

Selain mempertimbangkan sejumlah besar batu dan tenaga yang diperlukan, faktor terpenting adalah titik puncak piramida harus berada di bidang dasar   tepat  di   titik  tengah 4 sudut  atas.  Karena  jika ke-4 sudutnya miring dan sedikit menyimpang,  maka ketika menutup  titik  puncak   tidak  mungkin menyatu di  satu   titik, berarti proyek bangunan ini dinyatakan gagal.  Karenanya,  merupakan suatu poin yang amat penting, bagaimanakah meletakkan sejumlah 2,3 juta-2,6 juta buah batu besar  yang setiap batunya berbobot 2,5 ton dari permukaan tanah hingga setinggi lebih dari seratus meter di angkasa dan dipasang dari awal sampai akhir pada posisi yang tepat. Seperti  yang dikatakan oleh pengarang Graham Hancock dalam karangannya  "Sidik Jari  Tuhan":  Di   tempat  yang  terhuyung-huyung  ini,  di  satu sisi harus menjaga keseimbangan tubuh, dan sisi lainnya harus memindahkan satu demi satu batu yang paling tidak beratnya 2 kali lipat mobil kecil ke atas,  diangkut  ke tempat  yang tepat, dan mengarah tepat pada tempatnya, entah apa yang ada dalam pikiran pekerja-pekerja pengangkut  batu  tersebut. 

Meskipun  ilmu pengetahuan modern telah memperkirakan berbagai macam cara dan tenaga   yang memungkinkan untuk membangun,  namun  jika dipertimbangkan  lagi  kondisi   riilnya,  akan kita temukan bahwa orang-orang tersebut   tentunya memiliki  kemampuan atau kekuatan  fisik yang melebihi  manusia biasa,  baru bisa menyelesaikan proyek  raksasa  tersebut  serta memastikan keakuratan maupun ketepatan presisinya. Terhadap hal ini, Jean Francois Champollion yang mendapat sebutan sebagai "Bapak Pengetahuan  Mesir  Kuno  Modern" memperkirakan bahwa orang yang mendirikan piramida berbeda dengan manusia sekarang, paling tidak dalam "pemikiran mereka mempunyai tinggi tubuh 100 kaki yang tingginya sama seperti manusia raksasa". Ia berpendapat, dilihat dari  sisi pembuatan piramida, itu adalah hasil karya manusia raksasa. Senada dengan itu, Master Li Hongzhi dalam ceramahnya pada keliling Amerika Utara tahun 2002 juga pernah menyinggung   kemungkinan   itu.   "Manusia   tidak   dapat  memahami bagaimana   piramida dibuat.  Batu   yang   begitu   besar   bagaimana  manusia  mengangkutnya? Beberapa orang manusia raksasa yang tingginya lima meter mengangkut  sesuatu,  itu dengan manusia sekarang memindahkan sebuah batu besar adalah sama. 

Untuk membangun piramida itu, manusia setinggi lima meter sama seperti kita sekarang membangun sebuah gedung besar." Pemikiran demikian mau tidak mau membuat  kita membayangkan,  bahwa piramida raksasa dan sejumlah besar bangunan batu raksasa kuno yang ditemukan di berbagai penjuru dunia telah mendatangkan keraguan yang sama kepada semua orang: tinggi besar dan megah, terbentuk   dengan  menggunakan   susunan   batu   yang sangat   besar,   bahkan   penyusunannya sangat  sempurna.  Seperti  misalnya,  di  pinggiran kota utara Mexico ada Kastil  Sacsahuaman yang disusun dengan batu  raksasa yang beratnya melebihi 100  ton  lebih,  di  antaranya ada sebuah batu raksasa yang tingginya mencapai 28 kaki, diperkirakan beratnya mencapai 360 ton (setara dengan 500 buah mobil  keluarga). Dan di  dataran barat daya Inggris terdapat  formasi batu   raksasa, dikelilingi   puluhan   batu   raksasa  dan  membentuk sebuah  bundaran   besar,  diantara beberapa  batu  tingginya  mencapai  6 meter.  Sebenarnya, sekelompok manusia yang bagaimanakah mereka itu? Mengapa selalu menggunakan batu  raksasa, dan  tidak menggunakan batu yang ukurannya dalam jangkauan kemampuan kita untuk membangun?

Sphinx, singa bermuka manusia yang juga merupakan obyek penting dalam penelitian ilmuwan, tingginya 20 meter,  panjang keseluruhan 73 meter,  dianggap didirikan oleh kerjaan Firaun ke-4 yaitu Khafre.  Namun,  melalui  bekas yang dimakan karat  (erosi)  pada permukaan badan Sphinx, ilmuwan memperkirakan bahwa masa pembuatannya mungkin lebih awal, paling tidak 10 ribu tahun silam sebelum Masehi. Seorang   sarjana   John  Washeth   juga   berpendapat:   Bahwa   Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya sama sekali
berbeda,   ia dibangun pada masa yang lebih purbakala dibanding masa kerajaan ke-4. Dalam bukunya "Ular Angkasa", John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal dan hebat yang lebih kuno ribuan tahun dibanding Mesir kuno, warisan budaya yang diwariskan yang tidak diketahui oleh kita.  

Ini, selain alasan secara teknologi bangunan yang diuraikan sebelumnya, dan yang ditemukan di atas yaitu patung Sphinx sangat parah dimakan karat juga telah membuktikan hal ini. Ahli   ilmu pasti  Swalle Rubich dalam  "Ilmu Pengetahuan Kudus"  menunjukkan:  pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, sebab bagian badan singa bermuka manusia itu, selain kepala, jelas sekali ada bekas erosi. Perkiraannya adalah pada sebuah banjir dahsyat tahun 11.000 SM dan hujan lebat yang silih berganti lalu mengakibatkan bekas erosi. Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin. Washeth mengesam-pingkan dari  kemungkinan air  hujan,  sebab selama 9.000  tahun di  masa  lalu dataran  tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian. Washeth juga mengesam-pingkan kemungkinan tererosi oleh   angin,   karena  bangunan   batu   kapur   lainnya   pada  masa   kerajaan   ke-4  malah tidakmengalami  erosi  yang  sama.  

Tulisan berbentuk  gajah dan prasasti   yang ditinggalkan masa kerajaan kuno  tidak ada sepotong batu pun yang mengalami  erosi  yang parah seperti  yang terjadi pada Sphinx.Profesor  Universitas  Boston,  dan ahli  dari   segi  batuan  erosi  Robert  S.   juga setuju dengan pandangan Washeth  sekaligus  menujukkan:  Bahwa erosi   yang dialami  Sphinx,  ada beberapa   bagian   yang  kedalamannya   mencapai   2  meter   lebih,   sehingga   berliku-liku   jika dipandang   dari   sudut  luar,   bagaikan   gelombang,   jelas   sekali   merupakan   bekas   setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun. Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat  mengukir  skala yang sedemikian besar di  atas sebuah batu raksasa,  produk seni  yang tekniknya rumit. Jika diamati  secara keseluruhan,  kita bisa menyimpulkan secara  logis,  bahwa pada masa purbakala,  di  atas  tanah Mesir,  pernah ada sebuah budaya yang sangat  maju,  namun karena adanya pergeseran  lempengan bumi,  daratan batu  tenggelam di   lautan,  dan budaya yang sangat  purba pada waktu  itu akhirnya disingkirkan,  meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna. 

Dalam  jangka  waktu   yang   panjang   di   dasar   lautan,   piramida   raksasa   dan  Sphinx mengalami rendaman air dan pengikisan dalam waktu yang panjang, adalah penyebab langsung yang  mengakibatkan erosi yang   parah   terhadap  Sphinx.  Karena   bahan  bangunan  piramida raksasa Jazirah adalah  hasil   teknologi   manusia   yang   tidak  diketahui   orang sekarang, kemampuan erosi   tahan airnya  jauh melampaui  batu alam,  sedangkan Sphinx  terukir  dengan keseluruhan batu alam, mungkin ini penyebab yang nyata piramida raksasa dikikis oleh air laut yang tidak tampak dari permukaan. Keterangan  gambar: Sphinx yang bertetangga dekat dengan  piramida  raksasa kelihatannya sangat kuno. Para ilmuwan memastikan bahwa dari badannya, saluran dan irigasi yang seperti dikikis air, ia  pernah   mengalami   sebagian   cuaca   yang   lembab,   karenanya memperkirakan bahwa ia sangat berkemungkinan telah ada sebelum 10 ribu tahun silam.

Havana dalam bukunya "Kumpulan Misteri Dunia"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.