March 8, 2018

LEGENDA PUTRI DUYUNG


Ada banyak kisah duyung dari Jepang,  namun kisah yang satu ini berbasis pada legenda kuno 1.400  tahun  lalu.  Satu kisah yang berasal  dari  kisah kepercayaan Shinto di  Kota Fujinomiya dekat kaki Gunung Fuji, Jepang.  Di salah satu Kuil Shinto di Fujinomiya tersimpan sebuah mummi duyung setinggi 170 cm berusia 1.400 tahun. Ini merupakan salah satu mumi duyung tertua dan terbesar yang kini masih tersimpan di Jepang.  Dari   bentuknya   mummi   duyung   berpenampilan   menyeramkan,   berkepala   besar, bundar, dan botak, hanya sejumput rambut yang tumbuh di depan kepala sampai ke hidungnya. Mata dan mulutnya tampak terbuka. Ia memiliki sepasang tangan dengan kuku yang tajam (20 cm).Setengah   tubuh   bagian   atas  menyerupai  manusia   dan   setengah   bagian   di   bawah menyerupai  ekor   ikan.
Namun,  struktur   tulangnya  tidak diketahui  pasti  bagaimana bentuknya karena belum pernah diteliti. Legenda  mengenai  duyung  monster   ini  muncul  pada  masa  Putra  Mahkota   Jepang Shotoku (Shotoku Taishi) di  tahun 574-622 Masehi.  Saat   itu Shotoku berjalan melintas tepian Danau Biwa. Saat ia menyepi tiba-tiba muncul sesosok monster dari dalam danau yang berseru pada Shotoku bahwa ia adalah seorang nelayan yang dikutuk menjadi monster duyung bertubuh setengah  orang   setengah   ikan,   karena  perbuatan   di  masa   lalunya   yang   sering  membunuh hewan untuk disantap. Ia mengaku baru memahami  kekeliruannya dan berharap agar  ia menjadi  peringatan bagi seluruh manusia agar tidak melakukan pembunuhan terhadap satwa. 

Baca juga:
Pesan ini disampaikan untuk dunia di  masa depan.  Karena  itu monster   tersebut  minta agar   ia  (setelah mati  nanti) dikeringkan dan ditempatkan disebuah kuil sebagai peringatan bagi umat manusia. Setelah  menyampaikan   pesan-pesan   itu  monster   duyung   itu   kemudian  meninggal.  Shotoku kemudian merenungkan  ucapannya  itu dan mengeringkan duyung  tersebut  menjadi mummi. Sesuai permintaan sang duyung, putra mahkota mendirikan sebuah kuil untuk mummi sang duyung.  Selama 1.400 tahun mummi ini berpindah-pindah tangan sampai akhirnya ditempatkan di   Kuil   Shinto   di  Fujinomiya   hingga   kini.   Keberadaan   mummi   ini   dihubungkan   dengan kepercayaan yang berpantang membunuh satwa alias hidup ala vegetarian.  

Duyung-duyung yang Nyata 
Tidak diketahui pasti apakah legenda soal duyung berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun  berdasarkan  telaah   ilmiah   di   beberapa   perairan   yang   di  masa   lalu   duyung   sering dikisahkan, justru memang dihuni hewan-hewan spesial. Beberapa   hewan   spesial   itu   hingga  kini  masih   hidup  di   perairan   tawar   atau   asin.  Hewan-hewan  inilah yang sering disalahtafsirkan sebagai  duyung.  Mungkin karena kebiasaan hidupnya, bentuknya dan performanya yang memang mirip. Apalagi bila dilihat dari kejauhan. Hewan-hewan  ini  dikenal  sebagai  "dugong",   "manatee"  dan  "sapi   laut  (sea cow)". 

Ketiga spesies ini memiliki bentuk tubuh yang mirip, namun hidup di  lingkungan perairan yang berbeda.  Tergolong sebagai  mamalia yang suka menyusui  dan berjemur  di  batu karang dan tepi-tepi perairan, atau mengeluh dan bersuara lantang. Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Bisa ditemukan di perairan dangkal kawasan pantai India, Pasifik Selatan (dari wilayah pantai timur Afrika sampai utara Australia), perairan   pantai   Papua,   dan   kepulauan   lain  di   Pasifik.   Dugong   berwarna   cokelat   kelabu, tubuhnya sepanjang 2,7 meter dan mampu hidup sampai usia 70 tahun. Manatee.  Ada  tiga   jenis  manatee  yang sudah dikenal.  

Ada yang  hidup di  perairan Karibia dan sepanjang pantai tenggara Amerika Selatan. Ada yang di sepanjang perairan pantai dan muara sungai Florida (AS), dan jenis ketiga yang hidup di perairan tawar sungai  Amazon. Manatee ini  ada yang hidup di air tawar dan air asin. Warna manatee kelabu, dengan ukuran panjang tubuh 4 meter. Sapi  Laut   (sea cow).  Pertama kali  ditemukan dan diidentifikasi  pada 1741 di  dekat Pulau Commander  di  Laut  Bering.  Sapi   laut  biasanya suka hidup di  perairan dangkal  dekat pantai.  Ukuran tubuhnya bisa sepanjang 7,6 meter dan warnanya kelabu kecokelatan dengan pola polka dot samar. Ketiga hewan air  yang menyusui  anaknya  ini  termasuk dalam kelompok ordo  (grup) hewan mamalia air yang disebut sirenia. Penamaan kelompok mamalia air   ini  dibuat  para  ilmuwan berdasarkan kepercayaan kuno (mitologi) bahwa hewan-hewan sirenia inilah yang dulu diyakini para pelaut sebagai sirens atau duyung.

Download Ilmu Gaib gratis Disini

Legenda Duyung, Makhluk Setengah Manusia Setengah Ikan 
Selama  ribuan  tahun duyung  telah menjadi   legenda.  Dipercaya sebagai  perwujudan makhluk setengah  ikan setengah manusia.  Dari  belahan bumi  barat  hingga  timur,  utara dan selatan. Kisah-kisah duyung mewarnai khazanah mitologi dan misteri dari lautan. Berdasarkan  legenda duyung adalah makhluk air  yang setengah  tubuhnya manusia dan setengah lagi ikan. Bagian pinggang ke atas biasanya berbentuk tubuh perempuan cantik dan pinggang ke bawah tertutup sisik seperti ekor ikan besar. Kisah mengenai duyung ini hampir sama atau serupa di belahan bumi mana pun, karena itu ia menjadi legenda yang universal. Ditinjau dari  mitologi  Yunani,  duyung dipercaya  sebagai  si  cantik  penggoda pelaut. Siapa   yang   tergoda   rayuan   sang   duyung   ia   akan   menemui  ajalnya.   Namun   masyarakat Babilonia  menganggap   duyung   sebagai   dewa   laut   yang  disebut   sebagai  Ea   atau  Oannes. Namun duyung ini adalah jantan. Mitologi kuno lain (Yunani dan Romawi) juga menyebut bahwa duyung adalah makhluk yang menyertai  dewa-dewa  laut  semacam Poseidon,  Neptune dan Triton.  

Duyung-duyung  ini umumnya berupa makhluk bertubuh perempuan dengan paras cantik  jelita,  berdada montok, bercahaya, namun dari pinggang ke bawahnya seperti ekor ikan. Duyung pertama kali  muncul  dalam mitologi  di Assyria (1000 SM). Atargatis,   ibu dari ratu Assyria,  Semiramis,  adalah dewi  yang mencintai  seorang gembala namun kemudian  ia membunuhnya karena cintanya ditolak. Merasa malu ia melompat ke dalam danau dan berubah menjadi ikan. Dalam transformasi menebus malu ia berubah menjadi duyung. Lalu pada masa 500 SM,  kisah duyung  terdengar   lagi  dari  seorang  filsuf  dari   Ionia (wilayah  Yunani)   bernama  Anaximander.   Ia   berpendapat  bahwa  manusia   berasal   dari   satu spesies   hewan   air.   Teori   ini   kemudian   disebut   sebagai  evolusi   hewan   air   ke   manusia. Pendapatnya ini di-anggap sebagai pembenaran bahwa duyung adalah hewan air yang sedang berevolusi menjadi manusia. 

Begitu   populernya   duyung   ini,   sehingga   tercantum  dalam  perkamen   dan   naskah-naskah tua.  Bahwa dalam catatan Alexander  the Great,  sang penguasa Macedonia,  (356-323 SM) kisah duyung juga terselip di sana. Saudara perempuan Alexander bernama Thessalonike disebutkan berubah menjadi duyung setelah kematiannya. Legenda dan kisah duyung  ini   tersebar  ke mana-mana.  Dikisahkan oleh para pelaut dan penjelajah samudera.  Umumnya duyung digambarkan sebagai  perempuan cantik berekor ikan, berambut  panjang, bersuara merdu, suka berjemur di karang dan tepi pantai. Namun tak ada   bukti  pasti  mengenai   eksistensinya.  Kecuali   pertinggal   dalam  bentuk   sketsa   kuno   dan tergambar di mata uang kaum Corinthian (Yunani). Namun   ada   sebuah  buku   bertahun   1718   yang   terbit   di  Amsterdam Belanda,   yang mengupas   soal   kehidupan  aneka   satwa   di   Samudera   Hindia.   

Buku   ini   dilengkapi   artikel deskripsi, aneka sketsa dan gambar. Dalam buku ini ada satu catatan detail soal duyung: "Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku, Indonesia). Berdasarkan pengukuran memiliki tubuh sepanjang 59 inci (147,5 cm), bentuknya mirip belut laut (moa). Makhluk ini hanya bertahan hidup selama 103 jam (4,5 hari) setelah ditangkap, dan mati di akuarium. Selama pengurungan diberi makan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya, namun ia tidak merespons makanan tersebut." Agaknya duyung memang  masih  misteri.  Dipercaya  ada,  namun  bukti  yang  terlihat sampai   kini   tak   pernah   pasti   soal   wujud   duyung   yang   ada   legenda.   Para   ahli   bahkan menyimpulkan   bahwa   kemungkinan   duyung   itu   adalah  mamalia   air   yang   dikenal   sebagai dugong, manatee dan sea cow (Sapi laut), yang disalahtafsir oleh pelaut masa lalu.

Dongeng Duyung yang Tersohor
Walau sempat  ditakuti  oleh banyak pelaut,  ternyata kisah soal  duyung justru menarik pula   bagi  anak-anak.   Satu   dongeng   tentang   duyung   yang   terkenal   adalah   buah   karya pendongeng dunia Hans Christian Andersen. Karya Andersen yang berjudul "The Little Mermaid (1836)" menjadi satu dongeng paling populer  soal  duyung dan sudah diterjemahkan ke berbagai  bahasa.  Bahkan kisah  ini  sudah difilmkan dalam versi  kartun dengan judul  yang sama oleh Walt  Disne, namun dengan sedikit pengubahan di bagian akhirnya. 

Versi  asli  Andersen,  mengadaptasi  kisah yang menjadi  patron  tentang duyung yang selalu berakhir dengan kesengsaraan. Berkisah soal duyung yang terobsesi dengan kehidupan di darat dan tertarik pada seorang pangeran. Untuk bisa berubah menjadi manusia ia harus rela kehilangan suaranya  (bisu).  Namun setelah menjadi  manusia,  sang pangeran  tak membalas cintanya karena ia bisu. Akhirnya sang duyung tak bisa menikmati hidup dan berputus asa. Untuk mengenang dongeng Hans Christian Andersen yang  tersohor   ini,  patung Little Mermaid   dibangun   di   pelabuhan   di  Copenhagen,  Denmark.   Patung   itu  menjadi   icon   kota pelabuhan itu. 

Havana, dalam ebooknya Kumpulan Misteri Dunia

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.