27 Februari 2018

LEGENDA MANUSIA PENDEK


Mungkin dari  kita semua pernah membaca kisah mengenai  makhluk yang satu  ini  di beberapa  majalah   ataupun   surat   kabar,   kerana   keanehannya   ramai   yang   sudah mengulasnya.  Orang pendek ialah nama yang diberikan kepada sebentuk yang unik (manusia?) yang sudah dilihat ramai orang selama ratusan tahun yang kerap muncul disekitar  Taman Nasional  Kerinci  Seblat,  Sumatera.  Walaupun   tak  sedikit  orang yang pernah melihatnya,  kewujudan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki.  Tidak ada seorangpun yang  tahu,  sebenarnya makhluk  jenis apakah yang sering disebut  sebagai  orang pendek   itu. Tidak pernah ada laporan yang memberitakan bahawa seseorang itu pernah menangkap atau menemukan jasad makhluk ini,  namun hal itu berbanding sebaliknya dengan banyaknya  laporan dari  beberapa orang yang mengatakan pernah melihat  makhluk  tersebut.

Sekadar informasi, Orang pendek ini termasuk didalam salah satu kajian Cryptozoolgy, begitulah yang dapat  saya perolehi  dari  beberapa sumber.  Ekspedisi  pencarian  Orang Pendek  sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National  Geographic  Society.  National  Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Sumatera, beberapa peneliti dan pengkaji  telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

Sejauh ini,  para saksi yang mengaku pernah melihat  Orang Pendek menggambarkan tubuh  fisiknya sebagai  makhluk yang berjalan  tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedkit pula yang menggambarkannya dengan   membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.  Keberadaan Orang Pendek sudah  terlalu lama terdengar sejak berabad-abad lalu, sehingga hal itu menjadikannya sebagai salah satu legenda masyarakat  disana.  Dari  ekspedisi yang beberapa kali di lakukan, umumnya ada suatu studi kasus mengenai  klasifikasi pembagian saksi mata. Pertama saksi dari suku anak dalam, yaitu sekelompok   orang   yang   tinggal disekitar areal Taman Nasional.  Kemudian ada beberapa kelompok   saksi   mata   dari   orang   desa  lokal, kemudian beberapa kesaksian dari warga pendatang (Belanda) pada awal abad ke-20.

Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara  turun  temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku  anak  dalam.  Mungkin bisa dibilang,  Suku anak  dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut.  Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah   ada.  Sejak dahulu suku anak dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat  mendekatinya. Ada suatu kisah mengenai keputus asaan para suku anak dalam yang mencoba mencari  tahu identitas dari makhluk-makhluk ini,  mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasioanal juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.  Awal  tahun 1900-an,  dimana ketika itu  Indonesia masih merupakan  jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA.  

Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr.  Van  Heerwarden  di   tahun   1923.  Mr.  Van  Heerwarden   adalah   seorang   zoologiest,   dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Pada   suatu   catatan  kisahnya, ia  menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu.  Mr. Heerwarden sadar  mereka bukan sejenis siamang mahupun perimata  lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya ketika itu, sehingga mereka berlari menghindar.  Satu   hal   yang  membuat  Mr.  Heerwarden   tak   habis   pikir,   semua  makhluk itu memiliki   persenjataan   berbentuk   tombak   dan   mereka   berjalan   tegak.  Semenjak  itu, Mr. Heerwarden   terus   berusaha  mencari   tahu  makhluk   tersebut,   namun   usahanya   selalu  tidak berbuah hasil. 

Sumber-sumber  dari  para saksi  memang sangat  diperlukan bagi  para peneliti  yang didanai  oleh National  Gographic Society untuk mencari   tahu keberadaan Orang Pendek.  Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk  terus menerus melakukan ekspedisi   terhadap eksistensi  Orang Pendek.  Namun,  sejak pertama kali  mereka datang ke Taman Nasional  Kerinci  di   tahun 1990,  sejauh  ini  hasil  yang didapat  masih  jauh dari  kata memuaskan.  Lain dengan peneliti   lainnya,  Debbie dan Jeremy datang   ke   Indonesia   dengan   dibiayai   oleh   Organisasi   Flora   dan   Fauna   Internasional (http://fauna-flora.org/).  Dalam ekspedisi  yang dinamakan  “Project  Orang Pendek”   ini,  mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi   ini   antara   lain   adalah   pengumpulan   informasi   dari   beberapa   saksi  mata   untuk mengetahui   lokasi-lokasi  di  mana mereka sering dikabarkan muncul.  Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka.  Rasa putus asa dan  frustasi  selalu menghinggap di  diri  mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan. 

Hubungan Kekerabatan Yang Hilang
Beberapa pakar  Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan  yang   hilang dengan manusia. Apakah mereka  merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus? Banyak Paleontologiest  mengatakan bahwa  jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari   ini,  maka mereka  lebih suka digambarkan sebagai  seekor siamang.  Pertanyaan mengenai   identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus   ini  sedikit  pudar  dengan ditemukannya  fosil  dari  beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu. Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai  Homo Floresiensis. 

Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai  Orang Pendek,  dimana mereka memiliki   tinggi  badan  tidak lebih   dari   satu   seperempat   meter,   berjalan   tegak  dengan   dua   kaki   dan   telah   dapat mengembangkan perkakas atau alat  berburu sederhana serta  telah mampu menciptakan api.  Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 - 18000 tahun yang lalu. Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat  bertahan hidup? Secara  jujur,  para peneliti  belum dapat  menjawabnya.  Peneliti mengetahui   bahwa   setiap   saksi   mata   yang   berhasil   mereka   temui   mengatakan   lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat  mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor  siamang  luar  biasa dan bukan hominid.

Oleh: Havana, dalam Ebooknya Kumpulan Misteri Dunia Part I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.