February 15, 2016

MISTERI KISAH TRAGIS 4 PECINTA ALAM

Pecinta Alam
Suku Asmat di Papua, sudah sangat populer.  Popularitas suku pedalaman yang masih primitif ini bukan lagi bertaraf nasional atau regional, melainkan sudah populer hingga ke tingkat dunia.  Yang menjadikan Suku Asmat populer hingga go Internasional tidak lain berkat kehebatan seni patungnya.
Termotivasi kabar yang sangat santer menjadi alasan klub pecinta alam Manggarai, Jakarta Selatan berkunjung langsung ke Papua.  Klub yang dipimpin Pendi (33 tahun), tiba di kampung Suku Dani persis di lembah Baliem sekitar jam 5 sora waktu setempat.
Diluar dugaan, ternyata penduduk suku pedalaman itu sangat ramah.  Padahal, menurut buku-buku petualangan yang pernah dibaca, tabiat yang mendominasi penduduk suku pedalaman itu adalah sangat sulit menerima orang asing dan mereka selalu curiga.  Tabiat penduduk suku Dani tidak termasuk dalam kebanyakan suku primitif lain di muka bumi ini.  Mereka sangat familier.  Familier yang mereka tunjukkan tentu saja sangat melegakan peserta yang tergabung dalam klub dari Manggarai itu.
Setibanya di tengah-tengah pemukiman yang berada di lembah Baliem itu, yang pertama kali dikerjakan Pendi bersama tiga rekannya, mencari tempat tinggal tetua suku (semacam ketua RT).  Rumah yang dituju ternyata sangat sederhana.  Mulai atap hingga dinding seluruhnya terbuat dari unsur pepohonan, tanpa ada campuran semen dan sejenisnya.  Begitupun penghuni rumah itu, Wika Obohok sangat ramah meski mukanya sangat khas, keras dan cukup menakutkan.  Sebagai tetua kampung, pria gagah itu masih terlalu muda, umurnya tidak lebih dari 40 tahun atau berkisar antara 38-an tahun.  Tetapi penguasaanya terhadap bahas persatuan, menempatkannya sebagai tetua kampung.  Selidik punya selidik ternyata Wika Obohok sempat mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah menengah di salah satu kota kabupaten di Papua.  Untuk ukuran penduduk primitif, sekolah lanjutan termasuk sangat langka dan orang yang mengantongi ijazahnya tentu punya nilai tersendiri di kalangan penduduk di kampungnya.

Suku Asmat
Pendi dan anggota klubnya langsung akrab, sehingga tanpa sungkan, Wika Obohok menyodorkan data-data yang dibutuhkan tamunya.  Menurut data yang diberikan pria berkulit hitam itu, hutan Papua memiliki 10.000 jenis flora, 2.770 diantaranya jenis anggrek dan 650 jenis burung, 125 jenis mamalia dan penduduk Suku Asmat berjumlah 60.000 jiwa dengan hidup mengelompok.
Saat pendi minta bantuan mencarikan pemandu, Wika Obohok justru menawarkan dirinya sendiri menjadi pemandu.  Karena dia sendiri yang meminta, Pendi tidak merasa jengah meski Wika Obohok selaku tetua kampung.  Pagi berikutnya Wika Obohok resmi mendaji guide (pemandu) bagi klub petualang asal ibukota negara itu.  Sepanjang perjalanan, Wika Obohok atau akrab disapa Obohok, banyak bercerita mengenai patung-patung Asmat beserta berbagai hal mistis yang terkandung didalamnya.  Kata Obohok, patung Asmat mempunyai tingkat daya magis tinggi, apalagi yang berusia diatas 200 tahun. “Menurut leluhur, setiap patung dihuni roh pemimpin suku.  Jahat atau tidaknya pengaruh patung itu, tergantung roh penghuninya.” Kata Obohok.



Selama menyusuri jalanan di lembah Baliem, banyak dijumpai jejeran batu-batu besar ataupun pohon-pohon yang diukir di pinggir jalan.  Dijelaskan Obohok, ukiran batu dan pepohonan itu telah disurupi arwah keluarga yang terbunuh dalam pertempuran dengan kampung tetangga.  Dia mengatakan pada saat itu sering terjadi perang antar suku di Papua diantaranya pertempuran antara Suku Asmat dengan salah satu suku yang kurang populer dimana suku tersebut masih sangat liar serta kanibal.  Terlepas dari berbagai hal mistis dan kerap dianggap irasional, Pendi maupun anggota klubnya tetap terkagum-kagum dengan ukirannya.  Sungguh ajaib dan hidup! Karya seni yang paling luar biasa diduni primitif.  Untuk masuk perkampungan suku Asmat, diperlukan kesiapan mental yang kuat.  Selama di perjalanan, Obohok terus bercerita terutama hal-hal mistis yang menjadi topik pembicaraanya. 
Akhirnya sampailah rombongan orang kota itu ke salah satu dinding tebing.  Dinding tebing itupun penuh dengan tonjolan-tonjolan bebatuan yang sudah dipahat.  Menjadi relief-relief yang nampak sangat artistik.  Keartistikan bentuk relief di tempat itu, tidak mengurangi daya magis yang ada. 



Pendi yang sedikit mendalami ilmu supranatural dari pamannya di Gunungjati Kota Cirebon, Jawa Barat sesekali mengelus permukaan punggung lengannya.  Bulu pada lengannya meremang berdiri serta seakan ada sapuan angin menyerupai udara dari air Conditioning (AC).  Interaksi dengan penghuni ghaib, dia bisikkan ke telinga Erik di sampingnya. 
Pembicaraan Pendi dan Erik meski volumenya sengaja direndahkan tetap saja mengundang minat Hamdan dan Safei yang melangkah dibelakang.  Ternyat, keduanya juga merasakan hal yang sama.  Hanya saja, baik Hamdan maupun Safei menghubungkan hal itu dengan gejala alam biasa.  Pada bagian tebing, terdapat goa cukup besar.  Disalah satu mulut goa Obohok membentangkan sepasang lengannya mengisyaratkan supaya empat orang di belakangnya menghentikan langkah.  Laki-laki berkulit hitam legam itu lalu meletakkan sepasang tangannya di depan dada menyerupai orang sungkem.  Gerak-gerik Obohok membuat aneh Pendi dan teman-temannya.  Apa maksud meminta rombongan menghentikan langkah, padahal di depannya hanya ada rongga gelap mulut goa berdiameter 2,5 meteran.  Usai sungkem Obohok baru menjelaskan kalau goa itu peninggalan penguasa ghaib bukit tersebut.  Mewakili teman-temannya Pendi meminta izin memasuki goa tersebut. 



Obohok tidak langsung menjawab, tapi ekspresi wajahnya langsung berubah.  Lantas Obohok menggeleng ragu.  Penasaran Pendi sedikit memaksa.  Lagi-lagi Obohok menggeleng, kali ini sedikit lebih tegas.  Karena tidak mungkin memaksa terus, Pendi hanya menarik nafas kecewa.  “Pangamben tidak bisa untuk main-main ataupun untuk iseng, berbahaya?” Kata Obohok.  “Pengamben itu manusia?” tanya Pendi.  “Bukan, beliau adalah makhluk dari bangsa Jin kuno yang mudah tersinggung,” Kata Obohok.  “Laki-laki?” tanya Pendi lagi.  “Bukan, tapi perempuan.  Umurnya tidak ada yang tahu pasti, tatapi diperkirakan umurnya sekarang sudah diatas seratus ribu tahun.” Kata Obohok.  Mendapat penjelasan semacam itu, Erik tertawa tertahan.  Untung tidak sampai terdengar Obohok.  Pendi menyarankan jangan mentertawakan apapun di tempat asing, sangat tidak sopan. 
“Apa yang lucu?” bisik Pendi.  “Masa’ iya sih umurnya seratus ribu tahun? ngarang saja,” Bisik Erik.  “Jin itu umurnya panjang-panjang, yang normal saja rata-rata mencapai sepuluh ribu tahun.  Kalau sampai seratus ribu tahun, itu jelas termasuk jin kuno berilmu sangat tinggi.” Kata pendi.  “Oooohh…”, Erik manggut-manggut.  Obohok membawa pulang rombongan klub sekitar jam 3 sore.  Maklum cuaca saat itu kurang mendukung serta ada gelagat bakal turun hujan.  Di Papua, jika sudah hujang bakal diiringi badai ganas.  Setelah menuntaskan makan sore di serambi rumah Obohok, tiga anggota klub mengambil tikar untuk alas rebahan. 
Obohok masih serius bincang-bincang dengan Pendi di serambi rumah sambil menikmati tembakau.  Puas menyerap berbagai informasi, Pendi pamit bergabung bersama para anggotanya di bagian belakang rumah yang menghadap ke tebing.  Obohok memilih pergi ke rumah penduduk lain untuk menyampaikan informasi keberadaan para tamu dari ibukota negara dirumahnya.  Pendi tak langsung rebahan.  Dia duduk tepat di tengah ambang pintu, sehingga dia lebih leluasa menyaksikan bukit dari kejauhan dengan tebingnya yang dipenuhi relief beraromah magis.  Ada dorongan yang tumbuh dari ruang batinnya untuk menguak misteri di dalam goa yang ditakuti Obohok. 
Saat keinginannya itu dilontarkan, di luar dugaan, ketiga rekannya pun punya keinginan yang sama.  Menurut mereka, sangatlah rugi bila teka-teki goa keramat itu hanya menyesaki rongga kepala sampai kembali ke ibukota, mengingat biaya yang dikeluarkan ke Lembah Baliem ini tidaklah kecil untuk ukuran kantong klub petualangan swasta seperti mereka.  Karena sudah ada kesepahaman, tanpa meminta panduan Obohok, mereka secara diam-diam menyelinap dari belakang rumah menuju ke bukit di kejauhan sana.  Jalan yang dilalui berbeda dengan jalan tadi, mereka sengaja memilih jalan lain yang tidak ditempuh bersama Obohok tadi siang.  Mereka melangkah terburu-buru agar lekas tiba di tempat tujuan.  Seperti sebelumnya, kali inipun, pada saat tiba di sekitar mulut goa, bulu roma masing-masing serempak berdiri.  Sehingga sedikit muncul keragu-raguan untuk menerobos masuk ke dalamnya.  Setelah berembug, akhirnya mereka melaksanakan niatnya.  Diawali Pendi selaku ketua regu diikuti Erik dan dua teman lainnya memasuki lorong goa.  Di dalam kondisi sangat gelap, mereka pun menggunakan senter mini yang memang sudah dipersiapkan.  Pendi melangkah hati-hati mengikuti lorong yang berliku-liku itu sambil tetap menjaga kewaspadaan. 
Sepanjang lorong goa, detak jantung tidak pernah tenang.  Mereka terus dikejutkan atas berbagai tonjolan batu yang sudah dipahat membentuk kepala patung berbagai wujud.  Disalah satu ruang cukup luas, mereka terpekik kaget manakala menyaksikan tumpukan tulang belulang serta tengkorak manusia.  Timbunan tulang belulang itupun buru-buru dilewati.  Pada lorong berikutnya, ditemukan berbagai macam patung batu.  Kebanyakan berbentuk kepala berbagai jenis binatang melata berseling kepala perempuan cantik.  Patung-patung itu ditumbuhi lumut ataupun lumpur, menandakan kalau tempat itu jarang sekali disinggahi manusia.
Semakin ke dalam, hawa dingin semakin menggigit tulang.  Mereka mengeluh kecil, merasakan betapa permukaan kulitnya seperti hendak membeku.  “Dingin sekali disini…jangan-jangan…!” Keluh Hamdan.  Bukan hanya Hamdan yang merasakan keanehan pada suhu udara di dalam goa itu.  Bahkan bibir Safei mulai bergetar hebat.  Begitupun Erik dan Pendi, mereka semua merasakan deraan dingin yang tidak wajar.  “Hei…! Lihat kesana…!!” Pekik Erik seraya mengarahkan jari telunjuknya dan langsung diikuti cahaya senter dari tangan Pendi.  Mulut mereka nyaris secara serempak melontarkan decakan kagum.  Pada tonjolan tikungan dinding goa, dimana berdiri patung perempuan telanjang.  Tidak seperti patung yang lain, kali ini patung tersebut sangat sempurna.  Menggambarkan sosok perempuan mulai dari telapak kaki, lekuk liku tubuhnya yang indah, wajah yang cantik dengan rambut keriting sebatas bahu.  Di saat teman-temannya terkagum-kagum, Erik bergerak maju. 
Sembrono sekali tubuh bugil patung itu dibelai mulai dari betis hingga pipi.  Bahkan pada tonjolan dada, Erik mendesis-desis seperti sangat meresapi.  Melihat tingkah Erik, Hamdan dan Safei terpingkal-pingkal.  Lain hanya dengan pendi, wajahnya langsung berubah.  Dia sangat tidak berkenan atas kelakuan Erik yang urakan seperti itu.  Tetapi Pendi menghindari ada pertengkaran maka dengan nada yang dilembutkan, dia mengingatkan Erik untuk menyudahi aksi cabulnya itu.  Tetapi peringatan Pendi tidak digubris.  Sehingga Pendi hanya bisa menarik nafas dongkol.  Alih-alih menyudahi aksinya, sekarang Erik bahkan berani sekali berdiri disamping patung dengan lengan kanan memeluk pantat yang besar itu.  Dia meminta Hamdan untuk mengabadikannya lewat pemotretan.  Hamdan bergegas mengeluarkan kamera digital dari sarungnya.  Kamera dibidikkan ke arah Erik.  Penuh konsentrasi, Hamdan mengamati layar digital di genggaman tangannya, tapi tidak juga memijit tombol kameranya.  Berkali-kali mata Hamdan dialihkan dari layar kamera ke arah patung.  Hal itu membuat heran rekan-rekannya.
“Kok lama banget sih?...cepet ntar lu giliran difoto!”  Teriak Erik.  Hamdan seakan tidak mendengar teriakan Erik.  Hal itu membuat penasaran Pendi, lalu dia hampiri posisi Hamdan.  Hamdan langsung menunjuk ke arah layar kamera. 
Pendi pun terlonjak kaget.  Pada layar kamera, jelas terlihat Erik berdiri mesra di samping perempuan bugil, bukan patung perempuan bugil melainkan, perempuan hidup menampakkan ekspresi wajah sangat marah.  Sangat penasaran, Pendi mengangkat muka dari layar kamera ke arah patung.  Kali ini Pendi menjerit histeris.  Hamdan dan Safei serempak menatap ke arah patung.  Dan mereka langsung terpekik ngeri.  Penasaran Pendi melangkah lebar ke arah patung.  Yang semula hanya satu patung, kini ditempat itu ada 2 patung.  Patung kedua tak lain Erik.  Pendi meraba-raba wajah Erik.  Erik memang sudah berubah menjadi batu.  Mendapati kenyataan sepahit itu, Pendi seakan menerima pukulan berat.  Dadanya sakit sekali.  Dia langsung membayangkan murka orang tua Erik.  Kondisi paling buruk bisa saja dia menerima tuntutan hukum dari orang tua temannya itu. 



Pendi langsung mengajak Hamdan dan Safei agar segera keluar dari dalam goa sebelum kejadian buruk lainnya satu demi satu menimpa mereka.  Setibanya di rumah, disambut wajah sangar Obohok.  Rupanya Obohok sudah tahu dari mana mereka selama beberapa jam itu.  Tanpa bisa mengelak, Pendi mengakui kekhilafaanya.  Rupanya Obohok terlanjur marah.  Keesokan harinya, Obohok setengah mengusir menyuruh rombongan klub pecinta alam itu agar meninggalkan kampungnya.  Dengan hati terasa berat, Pendi menuruti perintah Obohok.  Menjelang petang, Pendi, Hamdan dan Safei sudah tiba di Jakarta.  Tujuan pertama mereka tak lain menyambangi rumah orang tua Erik.  Dia akan berterus terang atas peristiwa yang telah menimpa Erik.  Memasuki mulut gang, Pendi dan dua temannya saling berpandangan dengan aneh. 
Dihalaman rumah yang akan mereka tuju itu sudah dipenuhi warga.  Langkahpun dipercepat dan setibanya di depan rumah, langsung disongsong isak tangis Bu Darsinih, ibu kandung Erik.  Wanita paruh baya yang puluhan tahun menjanda itu terbata-bata menjelaskan kepada Pendi dan dua temannya.  “Tiga jam lalu Erik meninggal, Dia…dia kesetrum listrik di Musholla.  Padahal sudah diingatkan,”  Tutur bu Darsinih.  Penjelasan itu semakin membuat bingung Pendi maupun kedua temannya.  Tanpa berupaya untuk berdebat, Pendi diikuti dua temannya menerobos memasuki ruang tamu.  Diatas lantai, sesosok tubuh terbujur kaku dan sudah ditutup kain.  Penasaran Pendi menyingkap bagian wajahnya.  Jelas sekali wajah Erik sangat pucat.  Lalu siapa yang berubah menjadi patung didalam goa sana? Teka-teki itu langsung disimpan rapat-rapat di benak Pendi, Hamdan maupun Safei dan berjanji keajaiban atas diri Erik hanya menjadi penghuni lembar buku diary mereka.
SEKIAN



Pesan Hikmah:

Berlaku sopan wajib dibiasakan sejak kanak-kanak sebab jika terbiasa berperilaku sopan, maka akan mudah mendapatkan simpati dari orang lain.  Namun bukan hanya manusia yang simpati pada kesopanan, makhluk halus sebangsa jin pun menyukainya dan akan murka terhadap manusia yang tidak sopan apalagi berlaku cabul.  Setidaknya peristiwa tragis yang menimpa salah seorang anggota pecinta alam asal Jakarta, cukup dapat dijadikan cermin, bahwa akibat berlaku cabul saat berada di dalam goa keramat Papua, dia terpaksa mengalami peristiwa tragis hingga merenggut nyawanya.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijaksana dan sesuai topik pembahasan.